Masuk

Ingat Saya

JURNALISME DAMAI (PEACE JOURNALISM)

JURNALISME DAMAI (PEACE JOURNALISM)

Jurnalisme damai pada dasarnya adalah upaya meluruskan kembali apa yang menyimpang dari jurnalisme dalam praktik. Prinsipnya, jurnalisme itu tujuannya untuk kepentingan publik, untuk kebaikan masyarakat luas.

Jadi, ketika suatu pemberitaan kemudian tidak memberi kebaikan untuk masyarakat –misalnya, karena cara pemberitaannya yang kurang mempertimbangkan bagaimana menyelesaikan konflik, atau malah cara pemberitaan itu berpotensi menbuat konflik jadi semakin berkepanjangan– maka di situ muncul jurnalisme damai (peace journalism). Yaitu, upaya mengembalikan jurnalisme ke ruh atau tujuan dasarnya, yaitu kepentingan publik. Perdamaian dan berakhirnya konflik adalah kepentingan publik.

Jurnalisme damai tidak memihak pada salah satu pihak yang bertikai, tetapi lebih menyorot aspek-aspek apa yang mendorong bagi penyelesaian konflik. Dari tujuan tersebut, maka yang diangkat adalah hal-hal yang sifatnya mendukung ke arah perdamaian. Dalam suatu konflik, selalu ada pihak-pihak tertentu yang mengharap ke arah damai.

Ambil contoh, pemberitaan kasus konflik di Ambon beberapa tahun lalu, antara warga Muslim dan warga Kristen. Jika pemberitaan media hanya memihak satu kelompok seraya memojokkan kelompok lain, ini tidak membantu ke arah penyelesaian konflik. Maka, alangkah baiknya jika media mengangkat inisiatif damai yang muncul, baik dari pihak Kristen maupun Muslim, jadi bukan secara ceroboh mengangkat suara-suara yang mendukung berlanjutnya perang dari kedua pihak.

Pengertian Jurnalisme Damai

Jurnalisme damai adalah jenis jurnalisme yang memposisikan berita-berita sebegitu rupa, yang mendorong dilakukannya analisis konflik dan tanggapan tanpa-kekerasasn (non-violent).

Menurut teoretisi dan pendukung utamanya, Jake Lynch dan Annabel McGoldrick, jurnalisme damai terwujud ketika para redaktur dan reporter menetapkan “pilihan-pilihan bersifat damai” tentang berita apa yang akan dilaporkan, dan bagaimana cara melaporkannya. Yang dimaksud dengan “bersifat damai” itu adalah bentuk pemberitaan, yang menciptakan peluang bagi sebagian besar masyarakat, untuk mempertimbangkan dan menghargai tanggapan tanpa-kekerasan terhadap konflik bersangkutan.

Jurnalisme damai memberi perhatian pada sebab-sebab struktural dan kultural dari kekerasan, karena hal itu membebani kehidupan orang di daerah konflik, sebagai bagian dari penjelasan terjadinya kekerasan.
Jurnalisme damai bertujuan menempatkan konflik sebagai sesuatu yang melibatkan banyak pihak, dan mengejar banyak tujuan, ketimbang sekadar dikotomi sederhana antara dua pihak yang berperang.

Tujuan eksplisit jurnalisme damai adalah untuk mempromosikan prakarsa perdamaian dari kubu manapun, dan untuk memungkinkan pembaca membedakan antara posisi-posisi yang dinyatakan oleh para pihak tersebut dan tujuan-tujuan mereka yang sebenarnya.

Jurnalisme damai merupakan tanggapan terhadap jurnalisme kekerasan dan liputan perang yang biasa. Pendekatan tradisional ini umumnya menekankan pada konflik yang sedang berlangsung, seraya mengabaikan sebab-sebab atau hasil-hasilnya.

Pendekatan serupa juga bisa ditemukan pada Jurnalisme Preventif, yang memperluas prinsip-prinsip semacam itu pada problem-problem ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan (institusional).
Untuk memudahkan kita dalam memahami perbedaan antara jurnalisme damai dan jurnalisme perang/kekerasan yang sudah ada, dapat dilihat pada tabel di bawah:

Jurnalisme Perang/Kekerasan

  • Fokus pada arena konflik. Ada dua pihak yang bertikai. Ada satu tujuan (menang).
  • Orientasi zero-sum (jika yang satu untung, yang lain rugi) secara umum.
  • Ruang tertutup, waktu tertutup. Penyebab dan jalan keluar ada di arena konflik.
    Siapa yang pertama melempar batu.
  • Membuat perang itu sesuatu yang rahasia.
  • Jurnalisme “kita-mereka”. Propaganda, suara, bagi pihak kita.
    Melihat “mereka” sebagai problem. Fokus pada siapa yang unggul dalam perang.
  • Dehumanisasi terhadap pihak “mereka.”
  • Reaktif, menunggu terjadinya kekerasan sebelum memberitakan.
  • Fokus hanya pada dampak kekerasan yang bisa terlihat (terbunuh, luka-luka, dan kerusakan material).
  • Orientasi Propaganda: Mengekspos ketidakbenaran “mereka”/ membantu menutupi kesalahan di pihak “kita”/kebohongan
  • Orientasi Pada Elite: Fokus pada penderitaan pihak “kita”; mengejawantahkan elite pria, menjadi penyambung mulut mereka.
  • Mengecam pelaku kejahatan di pihak mereka.
  • Fokus pada elite pencipta perdamaian

Orientasi Pada Kemenangan:
– Perdamaian = kemenangan + gencatan senjata.
– Menutupi inisiatif perdamaian, sebelum kemenangan dicapai.
– Fokus pada perjanjian, lembaga, dan masyarakat yang terkendali.
– Pergi ke perang yang lain, dan kembali jika bara perang lama menyala kembali.

Jurnalisme Damai

  • Mengeksplorasi terbentuknya konflik. Ada banyak pihak, banyak tujuan, banyak isu.
  • Orientasi win-win (sama-sama untung) secara umum.
  • Ruang terbuka, waktu terbuka. Penyebab dan jalan keluar bisa dari mana saja, juga dalam sejarah/budaya.
  • Membuat konflik itu transparan.
  • Memberi suara pada semua pihak. Empati, pengertian.
  • Melihat konflik/perang sebagai problem. Fokus pada kreativitas menyelesaikan konflik.
  • Humanisasi terhadap semua pihak.
  • Pro-aktif, pencegahan sebelum terjadinya kekerasan/perang.
  • Fokus pada dampak-dampak kekerasan yang tidak terlihat (trauma dan kejayaan, kerusakan pada struktur/budaya).
  • Orientasi Kebenaran: Mengekspos ketidakbenaran di semua pihak/ mengungkap semua upaya menutupi kesalahan (cover up)
  • Orientasi Pada Rakyat: Fokus pada penderitaan keseluruhan; pada kaum perempuan, orang tua, anak-anak; menyalurkan suara mereka yang tak mampu bersuara.
    Mengecam pelaku kejahatan di semua pihak.
    Fokus pada rakyat pencipta perdamaian.
  • Orientasi Pada Solusi:
    Perdamaian = tanpakekerasan + kreativitas.
    Mengangkat inisiatif-inisiatif perdamaian, juga untuk mencegah lebih banyak perang.
    Fokus pada struktur, budaya, dan masyarakat yang damai.
    Kesudahan: resolusi, rekonstruksi, rekonsiliasi.

Arahan untuk Peliputan

Dari sejumlah kuliah tentang jurnalisme damai, yang pernah diberikan oleh Johan Galtung, pakar studi perdamaian, dapat disusun sejumlah arahan untuk peliputan media. Berikut ini adalah daftar singkat pertanyaan, yang perlu dijawab oleh jurnalis yang ingin menerapkan jurnalisme damai:

  1. Konflik ini sebetulnya konflik tentang apa? Siapa saja pihak yang terlibat, dan apa tujuan mereka sebenarnya? Hitunglah pihak-pihak di luar arena konflik, di mana kekerasan (jika ada) terjadi! Daftar ini seringkali cukup panjang.
  2. Apa akar yang lebih dalam dari konflik ini, dalam struktur dan budaya, termasuk sejarah dari keduanya?
  3. Gagasan –gagasan apa saja yang ada tentang hasil-hasil lain dari konflik ini, ketimbang yang dipaksakan oleh satu pihak terhadap yang lain? Khususnya, ide-ide baru dan kreatif? Dapatkah ide-ide itu diperkuat untuk mencegah kekerasan?
  4. Jika kekerasan terjadi, bagaimana dengan dampak-dampak yang tak terlihat, seperti trauma dan kebencian, dan hasrat untuk pembalasan serta lebih banyak kejayaan?
  5. Siapa yang berupaya untuk mencegah kekerasan, apa visi mereka tentang hasil konflik, serta metode-metode mereka dalam upaya tersebut? Bagaimana upaya mereka itu dapat didukung?
  6. Siapa yang memprakarsai rekonstruksi, rekonsiliasi dan resolusi? Dan siapa yang hanya meraup keuntungan (seperti kontrak-kontrak rekonstruksi)?

Jika pendekatan seperti ini dilakukan, besar kemungkinan konflik yang terjadi di lapangan akan mereda dan memasuki tahap yang lebih tenang. Fokus pada kekerasan salah satu pihak saja hanya akan menyembunyikan konflik sebenarnya, dan menanam bibit bagi lebih banyak kekerasan. Fokus pada hasil-hasil tanpakekerasan, empati pada semua pihak, dan kreativitas, diharapkan akan mewujudkan perdamaian.

Peran Jurnalis dalam Jurnalisme Damai

Sempat muncul pertanyaan, sejauh mana jurnalis berperan dalam jurnalisme damai? Apakah jurnalis hanya berperan dalam hal pemberitaan atau ia juga bisa berperan lebih, sampai menjadi seorang mediator dalam konflik?

Peran jurnalis dalam jurnalisme damai hanyalah melalui karyanya (pemberitaan). Bila ada perang antara dua pihak, sebagai jurnalis kita memberikan kontribusi ke arah perdamaian dengan cara memberitakan hal-hal yang mendukung ke arah perdamaian. Bila kita terlibat sebagai mediator, atau sebagai juru runding, kita bukan lagi seorang jurnalis tetapi pihak yang terlibat dalam konflik. Meskipun menjadi mediator itu bisa dibilang terlibat dalam arti positif, peran mediator itu bukanlah porsi untuk jurnalis.

Bagaimana perspektif jurnalisme damai terhadap media, yang cukup sering menampilkan gambar-gambar yang vulgar atau kurang pantas dalam suatu peliputan konflik?

Sebenarnya untuk jurnalis sudah ada pedoman-pedoman perilaku bagaimana kita melakukan peliputan. Pedoman semacam itu untuk jurnalis media siar sudah ada dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dalam Kode Etik Jurnalistik AJI (Aliansi Jurnalis Independen), PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), atau IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) juga ada. Dan kemudian dari media massa yang bersangkutan, juga ada ketentuan-ketentuan dari pimpinan news tentang bagaimana jurnalis harus meliput.

Sebetulnya, bila setiap jurnalis mengikuti aturan-aturan tersebut, relatif tidak ada masalah. Cuma, di Indonesia, ada iklim kompetisi yang sangat ketat antar berbagai media massa. Sehingga, karena terlalu bersemangat dalam memenangkan kompetisi ketat tersebut, ada media tertentu yang melanggar rambu-rambu.

Atau ada juga pertimbangan-pertimbangan teknis. Karena kerjanya terburu-buru, kemudian ada gambar di media TV yang seharusnya di-blur, tetapi malah jadi lolos, ditayangkan tanpa di-blur. Tetapi itu semua kembali berpulang pada jurnalis atau produser yang menangani liputan itu. Jika mereka menjalankan tugas secara cermat dan hati-hati, seharusnya hal-hal menyimpang semacam itu bisa dihindari.

Jakarta, 15 April 2011


 

Satrio Arismunandar, adalah Executive Producer di News Division TRANS TV. Ketika masih menjadi wartawan Harian Kompas (1988-1995) pernah meliput konflik di berbagai negara seperti Bosnia-Herzegovina, Croatia, Slovenia, Rusia, India, Mesir, Jordania, Iran, Irak, Palestina, Israel, dan Libya.


 

admin
Dengan
Kemampuan saya mencari sumber berita yang aktual, memukau dan dapat dipercaya kredibilitasnya, membuat saya bergabung dengan JalanDamai ini. Saya memberikan informasi yang independen dan konsisten dengan Perjuangan.